Monday, July 22, 2024
HomeBeritaSorot Permasalahan SDN Dawuan Barat 3, Ketum Jarami : Cederai Demokrasi dan...

Sorot Permasalahan SDN Dawuan Barat 3, Ketum Jarami : Cederai Demokrasi dan Pendidikan yang Menindas!

KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Insiden tidak mengenakan yang menimpa sejumlah wartawan yang akan melakukan konfirmasi terkait kasus yang terjadi di SDN Dawuan Barat 3 jelas mencederai demokrasi.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum (Ketum) Jaringan Masyarakat Madani (Jarami), Didi Suheri, S.M., M.Sos kepada awak media, pada Senin (13/11/2023)

Menurut Didi, siapapun tidak boleh alergi terhadap kehadiran media, dalam hal ini wartawan. Karena kata dia, profesi wartawan dilindungi oleh Undang-undang.

“Dalam negara yang menganut sistem Demokrasi, jelas posisi media sebagai pilar demokrasi, jadi selain Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, ada Media,” kata Didi.

Pegiat Demokrasi ini menyayangkan terhadap sikap Kepsek SDN Dawuan Barat yang tidak kooperatif kepada para wartawan.

“Harusnya biasa aja kalau tidak ada hal yang luar biasa, dengan sikap Kepsek seperti itu hal biasa pun akan menjadi hal yang luar biasa dan bahkan bisa viral,” ujarnya.

“Saran saya, stigma negatif terhadap media itu harus dirubah, gak semua loh wartawan itu mau minta duit, kalau pun ada itu hanya oknum, yang dibutuhkan media itu informasi, dan kehadiran media itu harus nya di manfaatkan untuk melakukan hak jawab atau klarifikasi,” tambahnya.

Menurut Didi, sistem pendidikan merdeka belajar yang digaungkan oleh Kemendikbud harus diterapkan sampai ke sekolah jangan hanya di Perguruan Tinggi.

“Kalau saya pinjam istilah Filsuf Brazil, Paulo Preire, sistem pendidikan di kita itu masih sistem Gaya Bank, murid semata-mata hanya merupakan objek. Proses komunikasi tidak terjadi antara pendidik dan murid. Sementara pendidik terus menjejali pengetahuan nya dan “mengisi tabungan” mereka kepada murid, kemudian, murid tersebut akan menerima, menghafal, dan mengulang “tabungan” yang diberikan oleh guru,” jelasnya.

Konsep itu, lanjut dia, membuat ruang gerak murid menjadi terbatas, dan murid tak bisa berekspresi.

“Jadi konsep Guru sebagai orang tua disekolah yang menyayangi, mengayomi murid seperti anaknya gak ada lagi, guru hanya sebatas menyampaikan kewajiban nya saja yaitu mengajar, selesai mengajar pulang, eh satu lagi yaitu memberi hukuman, ini hukumannya diturunkan lagi kelasnya, dari kelas V jadi kelas IV, ini jelas akan berdampak pada psikologi anak, dan akan ada trauma tersendiri, dan ini yang saya sering bilang, pendidikan yang menindas,” pungkasnya.

Reporter : Nina Melani Paradewi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments