spot_img
27.1 C
Jakarta
Minggu, Agustus 31, 2025

Tradisi Papahare, Alas Daun Pisang Hingga 700 Meter

Tradisi Papahare, Alas Daun Pisang Hingga 700 Meter

KARAWANG- Banyak cara dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah untuk menyambut momentun Tahun Baru Islam 1 Muharam. seperti halnya dilakukan masyarakat Bakan Cirug, Desa Kalijati , Kecamatan Jatisari, Karawang, yang memiliki tradisi bernama “Papahare”.

Warga sekitar membawa makanan masing-masing lalu makan bersama ditengah jalan dengan daun pisang sepanjang 700 meter lebih, seluruh masyarakat ikut serta makan mulai anak-anak ,remaja hingga orang dewasa .

“Tradisi papahare ini digelar setiap pergantian tahun baru Islam,” kata Tokoh pemuda ,Oo Suracman, Kamis (20/8)

Tradisi itu kemudian menjadi sebuah kegiatan rutin mengawali awal bulan tahun baru Islam dengan tujuan sebagai ucap syukur dan lebih mendekatkan diri dengan Sang Khaliq. Selain itu sebagai ungkapan rasa syukur.

Baca Juga  Momentum HUT RI, BAZNAS Sumedang Salurkan Ragam Bantuan Termasuk Kaki Palsu

“Dalam pelaksanaannya, tradisi Papahare  ini diantaranya melakukan makan bersama dengan keluarga, kerabat dan tetangga dan lebih luasnya dengan seluruh warga desa .Tujuannya untuk menyambung silaturahmi,” katanya.

Dalam tradisi ini kata tokoh pemuda  Desa Kalijati menerangkan tradisi Papahare selain mengadakan makan dan doa bersama, tradisi ini juga merupakan sebuah sarana dalam mempertahankan nilai toleransi, tenggang rasa, saling menghormati dan menjaga keharmonisan antar sesama.

Lebih lanjut, Oo Nurohman mengatakan adat istiadat sunda yang punah ditengah kemajuan zaman , namun tetap akan  dilestarikan secara turun temurun dalam masyarakat Sunda dan akan terus digalakan setaip pergantian generasi.  Lantaran tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Sunda atas hasil panen yang berlimpah disambung dengan perayaan 1 Muharam 1442 Hujriah sebagai Tahun Baru Islam.

Baca Juga  Momentum HUT RI, BAZNAS Sumedang Salurkan Ragam Bantuan Termasuk Kaki Palsu

Secara umum tradisi ini memang dilakoni oleh Masyarakat Sunda, Jawa Barat. Khususnya masyarakat Kalijati , Kecamatan Jatisari, Karawang. Namun sebagai informasi, tradisi ini memiliki bentuk pelaksanaan yang berbeda-beda dari kota yang satu dengan kota lainnyta  di Jawa Barat. Perbedaan yang ada semasa sekali tidak mengurangi makna dan tujuan dari tadisi ini. Sebab pada prinsipnya, tradisi ini tetap memiliki kesamaan yakni berkumpulnya anggota keluarga untuk bersilaturahmi, mensyukuri hasil panen yang berlimpah dan makan bersama .

Tokoh muda Desa Kalijati ini mengatakan tradisi ini merupakan sebuah sarana dalam menjaga keharmonisan dan kedekatan yang ada di antara anggota keluarga. Ia juga menjelaskan tradisi yang hampir tidak pernah terlewatkan oleh masyarakat Jatisari sebetulnya sudah mulai dilupakan dibeberapa daerah di Karawang, namun sejak digalakkan kembali tradisi ini disambut masyarakat .

Baca Juga  Momentum HUT RI, BAZNAS Sumedang Salurkan Ragam Bantuan Termasuk Kaki Palsu

“Sambutan masyarakat terhadap tradisi ini, warga beramai-ramai membawa makanan dari rumah dan disajikan hingga sepanjang lima ratus meter menutup badan jalan,” pungkasnya. (nan/red)

BERITA LAINNYA

NASIONAL

PERISTIWA

- Advertisement -spot_img

TRENDING NEWS

HUKUM & KRIMINAL

POLITIK

BERITA POPULER

HUKUM & KRIMINAL

DAERAH

error: Content is protected !!